Kamis, 03 Juli 2014

Beda Kata Beda Efek

Kadang kita sudah tahu bagaimana siklus itu berjalan, tapi entah kenapa kita tetap menjalaninya.

Kadang kita tahu bagaimana proses berakhirnya, tapi entah kenapa kita masih ingin terus memulainya. 

Sebenernya apasih yang diinginkan? Kepuasan? Kebahagian? Atau apa?

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka" (QS 13:11)

Mungkin itu jawabannya :) *pakai mukenah* *edisi romadhon*

Waktu terus berjalan, siklus yang dulu pernah dijalani sudah tercatat di otak dan otak enggan untuk mengulangi, tapi hati tidak begitu karena hati mengandalkan sebuah harapan. 

Harapan itu berarti adalah sebuah impian. Banyak orang bilang, harapan yang terlalu besar malah membuat rasa kecewa begitu besar dan memperkecil keberhasilan sebuah pencapaian. Tapi menurutku tidak begitu..
(klik readmore untuk lanjut baca, yuk :))
Harapan adalah doa, dan impian itu juga doa. Tanpa harapan dan impian, usaha untuk sebuah pencapain tidak akan pernah ada. Tanpa impian? Kamu tidak akan bisa mendapatkan kepuasan dari suatu pencapaian. Antara doa, usaha, impian, dan harapan, semuanya itu harus memiliki kadar yang seimbang. 

The miracle of Doa. Kalian pernah mendengar cerita tentang keajaiban air? Kemarin aku baru membacanya "The True Power of Water", buku itu menceritakan bagaimana air bisa membaca apa yang di pesankan. Bagaimana reaksi air ketika diberi perkataan "kamu bodoh", "terimakasih dan cinta", atau perkataan lainnya.

Ternyata meskipun sumber air itu sama, jika dia diberi perlakuan yang berbeda, mereka akan menghasilkan kristal yang berbeda di mikroskop. Subhanallah. Kristal yang indah dihasilkan oleh kata "terimakasih dan cinta", sedangkan kristal yang tadi seharusnya ada menjadi pecah dan hilang setelah diberi kata "kamu bodoh", atau "penderitaan", atau sejenisnya. 

Yang paling menajubkan lagi adalah ketika sang penulis itu meneliti air sungai sebelum dan sesudah di doakan, hasilnya sangat berbeda. Yang tidak di beri doa dia sama sekali tidak menghasilkan kristal, sedangkan yang sudah diberi doa air sungai itu membentuk kristal yang sungguh indah, diluar dugaan :) (karena seharusnya air sungai tidak menghasilkan kristal, berbeda dengan air mineral yang selalu menghasilkan kristal).

Memang tidak dituliskan di buku itu, tapi aku menyimpulkan sendiri, bahwa sekarang aku tahu alasannya kenapa kita selalu di perintahkan untuk selalu berdoa sebelum minum air atau sebelum makan karena makanan dan minuman itu bisa menerima pesan, mereka tau bagaimana mereka dipuji, diejek, atau di doakan. Subhanallah. 

Selain itu, di buku itu ada cerita tentang orang lain yang melakukan percobaan yang serupa tetapi lebih mudah. Jadi dia menyiapkan 3 botol (mungkin bisa dibilang sejenis toples) yang diisi dengan nasi, kemudian botol pertama setiap pagi terus di puji, dan di berikan kata-kata yang baik seperti kata cinta dan terimakasih. 

Sedangkan, botol kedua setiap pagi selalu diejek "kamu bodoh", dan botol ketiga dibiarkan begitu saja, dia tidak diejek dan tidak dipuji, dia dibiarkan begitu saja, benar-benar tidak dipedulikan. Semua hal diatas tadi, dilakukan selama seminggu. 

Kalian tahu botol mana yang paling buruk bentuk nasinya? Coba tebak ;)

Ternyata botol yang tidak dipedulikan, semuanya memang basi, tapi nasi yang berada di botol ketiga sangat buruk penampakannya. Botol kedua yang selalu diejek memang buruk juga, tapi tidak seburuk botol tiga. 

Hal ini bisa disimpulkan bahwa tidak dipedulikan itu lebih menyakitkan daripada diejek. Dianggap tidak ada itu lebih menyakitkan dari apapun. Well, banyak banget pelajaran dari buku ini. Aku kagum banget sama buku ini. Kalian harus baca! ;)

Perkataan, doa, harapan, mimpi, usaha, dan takdir adalah satu set yang tidak bisa dipisahkan, mereka satu sama lain saling terkait, tapi kita harus tahu kadar dari masing-masingnya untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal :)

Good nite good people :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Big thanks for reading!

Large Yellow Polka Dot Pointer
by Atikah