Rabu, 27 Agustus 2014

Cahaya di Atap itu

Cahaya putih di atas itu terus menatapku, iya, itu cahaya lampu yang selalu menyala sepanjang malam. 

Aku tidak suka gelap. 

Dari dulu setiap malam aku pasti terbangun kalo cahaya itu dipadamkan, seperti ada seseorang yang mengagetkanku. Aneh ya, aku dan cahaya putih di atap itu seperti satu hati. 

Tapi cahaya putih itu juga selalu menjadi saksi bisu ketika aku berdiam di tengah malam. Aku tidak suka gelap, tapi terkadang aku terganggu dengan cahaya putih itu untuk tidur. Menutup mukaku dari dia dengan selimut adalah kode keras jika aku terganggu.

Susah. 

Gelap tidak bisa tidur karena imajinasi kemana-mana. Terang malah kesilauan. Atikah rempong. 

Ajaibnya, cahaya itu bisa menyimpan kenangan, setiap sudut kamarku pun begitu, entah mengapa, padahal tak ada hubungannya. (Di iyain aja biar cepet)

Akhir-akhir ini aku memaksakan diriku untuk tidur dalam gelap, hehe. Soalnya memang katanya gak baik kalo tidur dengan lampu menyala. 

Hai cahaya putih, aku harus membiasakan tidurku tanpa dirimu, aku harus terbiasa tanpamu. 

Semuanya ada karena terbiasa, mungkin lama-lama aku akan terbiasa dengan gelap. Jika aku mulai rindu cahayamu dari bawah selimutku, berarti aku rindu akan kebiasaanku bersamamu, bukan merindumu, gila aja rindu sama lampu. Hehe. 

Good night! :)

Senin, 25 Agustus 2014

Pesan yang Indah dan Kado yang Istimewa, Tidak Mungkin Sesimple Pikiranmu

Kebiasaanku itu membaca semua postinganku ulang sebelum menulis, iya, biar dapet feel aja hehe. Semalem aku barusan aja baca ini Gagalku untuk Suksesku (yang belum baca mungkin bisa baca hehe, klik aja ini). Ternyata sebegitunya ya rasanya patah hati sama sebuah harapan hehe.

Kalian tahu kenapa aku suka nulis? emmm meskipun gak ada yang nanya, aku bakal jawab, hahaha. Karena dengan nulis aku tahu apa yang aku lakuin dan dengan nulis juga aku jadi tahu pelajaran-pelajaran apa yang bisa aku ambil dari setiap detail-detail kejadian. Aku nulis bukan cuma di blog ini, aku juga nulis di blog sebelah hahaha, aku juga nulis di diary hehe seperti cewek-cewek biasanyalah, tapi dengan diary itu aku bisa tersadar gimana "aku" dulu, dan pastinya insya allah aku gak bakal ngelakuin hal-hal yang bodoh kedua kalinya, gak bakal mau lagi deh.

Oke, kembali ke awal. Dari post yang baru aku baca itu, aku baru tahu jawaban dari judul itu.

Gagalku untuk Suksesku..

Iya, mungkin aku gagal untuk ngejar jurusan yang aku pengen, dan waktu itu aku mikir, aku harus gagal dulu tahun itu, dan aku akan berhasil dari keinginanku di tahun berikutnya. Ternyata Allah tidak se-simple itu menyampaikan sebuah pesan. Allah mengemasnya dengan cantik, dikemas dalam sebuah kotak yang hanya bisa dilihat kecantikannya ketika sudah dibuka. Pesan itu sederhana ini....

Sabtu, 23 Agustus 2014

Dayung dan Lumba-Lumba

"Berarti kamu sama aja dong kayak dia, setali tiga uang, kamu membalas hal yang sama ke dia"

Perkataan itu selalu berputar di otakku, menurutku ini bukan membalas, aku hanya menyadarkan dia tentang hal yang dia lakukan agar dia tahu bagaimana rasanya, apa itu salah? hehe, lagian orang itu pasti tidak sadar, huh, yaiyalah.

oh, satu kata, aku bukan pendendam kok. ini cuma tulisan, kendorkan kerutan keningmu itu :)

Bayangkan jika kalian berada di sebuah perahu, kalian harus mendayung perahu itu bersama-sama, tapi ternyata kamu hanya mendayung sendirian, lelah? Pasti, karena berjuang sendirian itu terlalu melelahkan, sangat melelahkan. Angin, ombak, ah serem deh, naudzubillah :( 

Aku bukan membahas tentang kesendirian dalam sebuah harapan yang telah lenyap di tengah samudra (asik kata-kataku huahahaha, nggilani) Aku hanya membahas tentang rasa kecewa yang diberikan secara bertubi-tubi, iya, keroyokan gitu, gila aja, aku kan manusia biasa, hello please!

Kekecewaan memang bukan dibalas kekecewaan. Aku tidak pernah bilang kalo kecewa, aku hanya diam dan menunjukan melalui sikap, wanita memang begitu, mereka selalu ingin ditebak, sulit memang, maklum ya.

Akhirnya aku berpikir, "kalo dia bisa bikin aku kecewa, kenapa aku harus berusaha untuk tidak membuatnya kecewa?"

Iya, aku berkata seperti itu karena aku lelah mendayung sendirian di tengah samudra, aku bisa renang kok, jadi mendingan aku nyemplung aja, aku nyemplung terus mau ketemu sama lumba-lumba biar aku digendong terus di bawa pulang ke rumah, lumayan kan sekalian olahraga diajak lompat-lompat sama lumba-lumba, kalo enggak aku di angkat jadi putri lumba-lumba deh, tapi maunya putri lumba-lumba yang cantik, mau kayak princess Elsa. Terus kamu gak bisa ndayung deh sendirian di laut, kapok, soalnya alat yg buat ndayung di makan sama lumba-lumba. Duh. Ampun deh, aku gak fokus maksimal. Ah, abaikan. Lagi gatau mau nulis apa.

Ampuni Atikah, Ya Allah...

Cuma tulisan iseng ya Allah, efek dari baca novel ya allah, bukan novel lumba-lumba tapi ya allah...

tulisan gak serius :(

"kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan hanya membebani hati dan pikiran. Aku berlindung pada Allah dari rasa ini.." (mama doa begitu, dan aku juga) O:)

Gadis Dua

"hai, lama tak berbicara, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan kata-kata yang tak terduga loh"

"apa itu?
eem, oh iya, apa kamu sudah bertanya hingga detik ini?"

"ada deh, terkadang manusia tidak sadar, perkataan sederhana bisa menyakiti seseorang, dan terkadang manusia tidak sadar pesan tersirat itu bisa terbaca dengan mudahnya oleh pembaca atau pendengar, dan terkadang aku pun juga tidak sadar, jadi aku maklum...
Bertanya? huh. sepertinya aku tidak akan bertanya hingga aku lulus nanti."

"Iya. Memang begitu kodratnya...
Hah kamu selalu saja begitu, sampai kapan?"

"entahlah. Mungkin sampai aku lupa jika aku akan bertanya. :)"

---------------
 baca juga: Gadis Satu
---------

Rabu, 20 Agustus 2014

Hai biru apa kabar?


Hai biru, keajaiban Penciptamu selalu membuat aku ingin mengelilingi saudara birumu di seluruh penjuru dunia ini.

Hai biru, kau lemparkan ombak itu semaumu bersama angin seperti ucapan selamat datang untukku.

Hai biru, semoga putihmu akan selalu bersih dan jauh dari tangan kotor manusia yang tidak peduli akanmu, lindungi dirimu dari sampah ya. Agar aku tidak sedih jika melihatmu. 

Hai biru, kau seperti obat pilu dari hati, segala resah sekejap sirna ketika melihat indahnya hasil karya Penciptamu. Ya, kau selalu jadi obat piluku, biru, selalu. 

Hai biru, suatu saat nanti aku akan pergi keseluruh birumu, dimanapun itu, dan semoga Penciptamu mengijinkannya. 

Itulah impianku. 

Hai biru, ijinkan ragaku merindumu. Jaga angin kencang itu ya, biru, karena hal itu adalah bagian yang paling aku suka. Melihatmu dan merasakan angin kencang yang selalu mengiringimu. 


Large Yellow Polka Dot Pointer
by Atikah