Rabu, 08 April 2015

Surat yang Tak Pernah Terbaca

Kamu.

Kamu itu seperti rumah, membuat aku merasa selalu ingin pulang ketika aku merasa sendu di luar sana.

Kamu juga seperti buku diaryku, membuat aku ingin menceritakan semua keluh kesahku dan bahagiaku.

Kamu juga seperti matahari, membawa cahaya disaat aku merasa terpuruk dalam kegelapan.

Kamu juga seperti kabar bahagia yang selalu membuatku tersenyum ketika kamu hadir.

Kamu juga seperti obat penenangku, membuat aku lebih tenang disaat panik, membuat aku tidak berlebihan dalam mengkhawatirkan sesuatu.

Kadang kamu juga pemicu semangatku, meskipun kadang kamu menyebalkan.

Kamu. Kamu. Kamu.

Meskipun kamu seperti rumah yang membuatku selalu ingin pulang, aku tidak bisa pulang ke rumah  karena rumah itu kamu.

Meskipun kamu seperti buku diaryku, jiwaku tidak menginjinkanku untuk menuliskan segala keluh kesahku, bahkan bahagiaku sekalipun.

Meskipun kamu juga seperti matahari yang membawa sinar, aku lebih memilih lampu jika kamu mataharinya, untuk saat ini.

Meskipun kamu juga kabar bahagia yang selalu menghasilkan senyuman. Sekarang yang kudapat bukanlah senyuman, aku menghindari kabar bahagia itu, dan mencari kabaar bahagia dari hal lain.

Meskipun kamu seperti obat penenangku, aku tidak boleh terlalu sering meminum obat penenang karena sesuatu yang berlebihan tidak baik, kan?

Kamu kadang pemicu semangatku? iya, kadang. Karena kamu lebih sering mengeluarkan kata-kata yang menyebalkan dan akhirnya membuatku semangat.

Meskipun semuanya sudah hilang, kamu pernah memberikanku senyuman yang sangat lebar sampai aku tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari, kamu juga pernah membuat aku semangat seperti api membara, dan apapun itu, terimakasihku akan selalu kuucapkan dalam hatiku untukmu. Biarlah tulisan ini menjadi surat yang tak pernah terbaca olehmu.

thank you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Big thanks for reading!

Large Yellow Polka Dot Pointer
by Atikah