Selasa, 29 September 2015



"Mengingat dirimu itu seperti minum teh di sore hari, sama-sama menenangkan dan sama-sama membahagiakan. Iya itu kamu."- Aku

Minggu, 27 September 2015

Pilih Siripmu atau Putri Daratan?

Semua orang pasti penasaran akan masa depan mereka, begitu juga aku sebagai putri daratan. Aku sangat penasaran apakah pangeran ikan adalah jawaban dari setiap doaku yang aku lontarkan ketika ombak terus menghempaskan tubuhnya ke pesisir pantai tanpa henti atau pangeran ikan hanyalah angin lalu yang seharusnya tidak perlu dihiraukan.

Pangeran ikan, jawab aku, kamu termasuk yang mana?

Sang Pemilik Ombak pasti memiliki kejutan untuk pangeran ikan, begitu juga dengan makhluk lainnya. Semuanya masih rahasia, pangeran ikan dan aku harus menjalani semuanya agar menemukan jawaban.

Pangeran ikan, sudah cukup lama aku menunggu di pesisir pantai ini, tidakkah kau ingin menengok ke daratan sebentar?

Bagaimana jika ada yang bisa menukar siripmu dengan paru-paru? Maukah kau menukarnya? untukku?

Jadi, sekali-kali kamu bisa bernapas di daratan, menyapaku. Kemudian kau bisa kembali ke lautan semaumu, tapi kau tidak bisa sesempurna dulu. Siripmu sudah kau tukar kan?

Tukarkan siripmu, suatu saat nanti, ketika kau sudah siap, ketika kau sudah tau caranya bertahan hidup menjadi makhluk daratan dan makhluk lautan.

atau kamu bisa memilih untuk selamanya di daratan bersamaku, tidak usah kembali ke lautan, akan lebih mudah bukan?

Hem. Pangeran ikan, jika kau bingung bagaimana cara bertahan hidup di daratan, aku rela memberikanmu beberapa kunci untuk memahami caranya. 

Tapi sebelum semua terjadi, aku ingin bertanya. Apakah kau cukup punya nyali untuk melepas badan basahmu itu, melepas siripmu, dan pada akhirnya kau juga bisa mulai menegur makhluk daratan, atau bahkan kau akan menjadi makhluk daratan sejati.

Aku yakin, meskipun entah kapan, kau pasti akan menyapa putri daratan, walaupun misalnya putri daratan itu bukan aku. Waktu itu pasti akan tetap datang.

Siapapun putri daratan nanti yang kau sapa, aku akan tetap bahagia karena kau sudah berhasil menelusuri lautan hingga akhirnya kembali ke daratan.

THE END.

baca juga: Pangeran Ikan yang Selalu Sungkan, Seperti Menunggu Senja

Jumat, 25 September 2015

Seperti Menunggu Senja

Ternyata sang pangeran ikan tidak pernah menoleh ke arahku, maklum aku hanya putri daratan biasa. 

Mungkin dia mengharapkan putri-putri di lautan sana atau malah putri daratan di negri seberang. 

Lalu, apa yang harus kulakukan? Jika menyebut nama pangeran itu pun aku tak bisa. 

Aku tidak pernah tahu kabar pangeran ikan karena aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Dia juga tidak pernah menanyakan kabarku.

Aku hanya duduk diam di pinggir lautan menunggu dia muncul di permukaan, memandangi birunya lautan, dan gelombang yang terus menghampiriku. 

Aku baru ingat. Pangeran ikan bukanlah lumba-lumba yang suka muncul di permukaan, pangeran ikan juga bukan hiu yang rela merobek daging setelah mencium bau darah, pangeran ikan juga bukan ikan paus yang besar dan selalu mengeluarkan air dari punggungnya. 

Pangeran ikan cuma pangeran ikan yang memiliki kerajaan yang dia buat sendiri, demi keselamatan dirinya.

Tapi kenapa aku tetap menunggu di pinggir lautan? Sedangkan aku tahu dia tidak akan muncul.

Mungkin.

Seperti lautan yang menunggu senja, dia tidak pernah tahu pasti kapan senja datang, tapi dia tidak akan pernah bosan untuk menunggu dan menyambut senja yang sama di setiap menjelang petang.

baca juga: Pangeran Ikan yang Selalu Sungkan, Pilih Siripmu atau Putri Daratan?

Pangeran Ikan yang Selalu Sungkan

Pangeran ikan. Dia adalah pangeran ikan yang selalu membuatku penasaran.

Aku belum bisa melihatnya jelas karena aku berada di daratan, dia di lautan. Badan tak tampak, tapi kehadirannya jelas adanya.

Badanku selalu kering, sedangkan dia selalu basah seperti ketakutan. 

Rasanya ketika melihat sang pangeran seperti melihat diriku di masa lampau, lucu ya, ternyata aku bisa melihat sosok diriku sendiri di sesosok pangeran itu. Hihihi. 

Dia pangeran ikan yang suka berpetualang, dia seperti sedang mencari jati dirinya, berkelana ke segala penjuru lautan, memperhatikan arah kemana dia harus pergi mencari, melindungi dirinya dari serangan ikan-ikan yang lebih besar, dan memasang tameng tebal untuk menghindar dari putri-putri lautan.

Ingin rasanya aku menyelam ke lautan dan mencari tahu siapakah sebenarnya pangeran ikan itu, tapi....

Aku terlalu takut untuk menyelam, aku takut kehadiranku tidak diinginkan di kerajaannya.

Selain selalu basah seperti ketakutan, dia juga sangat dingin, sehingga membuat diriku enggan untuk membuka percakapan. 

Pangeran ikan, bisakah kamu sekali-kali pergi ke daratan, setidaknya hanya untuk sekedar menyapaku sejenak?

Aku tidak pernah mendengarkan suaramu untukku. 

Minggu, 20 September 2015

Pangeran Tampanku

Aku bersamamu semalaman, kupandangi wajahmu, kupermak kau sedemikian rupa agar esok ketika kau bertemu dengan seseorang-kita, kau sudah tampak tampan seperti pangeran-pangeran di negeri dongeng. 

Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan, aku kira memperhatikanmu itu sulit, hanya perlu niat yang tulus, semua akan beres. Sekarang kamu sudah cukup tampan, hmmm. Syukurlah. 

tapi rasanya....

Semakin aku berusaha memahamimu, semakin aku bingung denganmu. Tak apalah, mungkin semuanya butuh proses, ini baru langkah awal kita kan?

Tenang, aku akan tetap memperjuangkanmu, skripsiku! 

Skripsweet, kaulah kamuku. ❤️



“Menulis adalah caraku untuk mencintaimu dalam diam” — Aku

Boleh kan?


Selasa, 15 September 2015

Hai Kamu

Kamu pasti tidak akan pernah sadar bahwa kaulah yang selalu kurindu karena memang kau tidak akan pernah tahu, bahwa kau selalu berada di sekat rinduku.

Senin, 14 September 2015

Apa Benar Itu Kamu?

Melihatmu di pojok sana, dirimu mulai melambaikan tangan ke arahku, rasanya ingin segera kuberanjak dan menyentuhmu, sayangnya ragaku menolak untuk menghampirimu, padahal jiwaku ingin.

Mendengar suaramu memanggilku lirih, aku hanya berlagak bodoh seperti tidak mendengarmu, tapi sungguh aku sebenarnya ingin mendatangi panggilanmu. kamu percaya kan?

Kamu ada disana, aku juga ada disana, kita berada pada dimensi yang sama. Sayangnya seolah-olah aku menganggapmu tidak ada, aku memalingkan mukaku, dan berlagak sibuk dengan yang lainnya, tapi sekali lagi sungguh sebenarnya aku menganggapmu ada, jiwaku ingin menoleh ke arahmu, hanya saja malasku lebih besar dari pada kemauanku, untuk saat ini.

Ah! Tidak! Lupakan!

Aku akan melihatmu, menghampirimu, menyentuhmu, memahami setiap perkataanmu, mendengarkan panggilanmu, aku akan menganggapmu ada di setiap detik hidupku karena kata orang, "skripsi itu bukan dipikir, tapi dikerjakan"

Oke. Semangaaaat!

Semangat buat kalian semua yang sedang berkelana mencari literatur, mengetik setiap huruf, membuat kalimat, membuat paragraf, berpikir sepanjang waktu, melakukan percobaan di laboratorium dengan jas lab yang sudah lusuh, atau buat kalian yang masih mengumpulkan semangat. Ayo kita berjuang bersama. Caiyooooo! #nyemangatindirisendiri

Untuk kamu, kita, kalian semua.

Salam.
Atikah Nadhifah.

Jumat, 11 September 2015

Tentang Rindu for KKN 29

Kangen lagi. Kangen, kangen, kangen. Kata itu selalu aja muncul di pikiranku, ketika ngelihat foto mereka walaupun sekilas, di gallery, di recent update bbm, dimana aja deh, dan aku selalu menghindari baper karena aku emang baper-an, jadi gawat kalo baper lagi. Gak nangis sih, melow kangennya itu loh, hehehe :')

Hai, rindu.

Memang satu bulan berada di satu atap tidak mungkin tidak menyimpan banyak kenangan, tidak mungkin tidak tahu kebiasaan satu sama lain, tidak mungkin untuk tidak rindu, tidak mungkin untuk tidak saling sayang, bagiku.


"Gunakanlah pertemuanmu itu sebaik-baiknya karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu terakhir bertemu. Ya kan?"

huft.

Banyak yang ngangenin disana, semuanya, tanpa terkecuali. Hm....

Angin dinginnya di pagi hari yang nusuk banget, rasanya Malang aja kalah sama dinginnya, terus kangen denger bunyi alarm yang selalu dimatiin sama Kiki setiap pagi, hahaha. Kangen berusaha bangun sepagi mungkin supaya bisa mandi tanpa diketuk, setelah adzan shubuh baru deh satu persatu bangun. 

Satu persatu berteriak untuk antri mandi, ada yang nyerobot karena panggilan alam, ada yang nyerobot untuk wudhu, ada juga yang masih tidur santai-santai gak bingung antri mandi, ada juga yang sibuk ngomentari acara gosip di TV, hahaha. 

Kangen setiap detil dari kebiasaan kalian, rek....
Klik readmore untuk ngelanjutin bacanya, masih panjang loh :)

Jumat, 04 September 2015

Pemalu yang Hangat

Bersahabatlah dengan angin, mungkin saja, suatu saat ia bisa menyampaikan pesanmu kepada seseorang-mu.

Bersahabatlah dengan langit, karena dia selalu menjadi saksi bisu atas segala kenanganmu.

Bersahabatlah dengan matahari, karena kita pasti selalu memandang matahari yang sama, di waktu yang berbeda.

Bersahabatlah dengan awan, karena awan dapat menerima semburan warna dari si Matahari, dia bisa menyerap energi kehangatan cinta si Matahari, dan memberikan keindahan untuk matamu.

Bersahabatlah dengan tanah, karena tanah tempatmu memijak, tempatmu berdiri, tempatmu melakukan segala hal dengan seseorang-mu atau orang lain.

Bersahabatlah dengan alam, karena indahnya alam bergantung pada tangan dan sikapmu, alam membutuhkan kepedulianmu.

Bersahabatlah, bersyukurlah, berserahlah kepada Pencipta segalanya, karena tanpa-Nya kamu tidak bisa bersahabat dengan mereka semua.

Hai blog, kalian dapat salam dari si Matahari yang malu-malu, kemaren pagi. Cuma mau bilang itu aja sih :)



Kamis, 03 September 2015

Berdampingan, Bukan Saling Meruntuhkan

Dia belajar banyak dari kamu, banyak sekali.

Bagaimana kamu tersenyum, bagaimana kamu bertutur kata, bagaimana kamu mengatakan iya, dan bagaimana kamu memanggil namanya.

Senyummu tulus, kedua sudut bibirmu terangkat ke samping ketika kamu memanggil namanya, sudut senyummu menjadi saksi bisu bagaimana dia membalas senyuman tulusmu.

Senyum tulusmu tetap ada saat kamu mendengarkan ceritanya, saat kamu membalas senyumnya, saat kamu memandang matanya, bahkan saat dia melakukan hal bodoh di depanmu. Pandanganmu dalam, matamu terfokus padanya, sehingga dia selalu merasa bahwa kamu mendengarkannya dengan sangat seksama, jadi jangan heran jika kamulah orang yang pertama dicari ketika dia ingin bercerita.

Padahal kesan pertamanya ke kamu itu buruk sekali, tapi itu manusiawi. Dia menilai dari apa yang dia lihat, tapi seharusnya kita perlu memahami dulu kan, barulah mengatakan itu buruk atau baik.

Setelah dia memahamimu, semuanya berjalan dengan baik kok.

Langkahmu lebar, dia jarang berani jalan tepat di sampingmu karena dia bukan orang yang terbiasa berjalan berdua dengan lawan jenis, tapi kamu terlalu membuatnya nyaman, kamu memposisikan dirimu seperti dia sudah lama mengenalmu, tidak terburu-buru, juga tidak terlalu cepat, semuanya berjalan apa adanya, dan tidak ada yang melewati batas aturannya.

Tapi kamu punya benteng yang sangat tinggi, dia juga. Benteng itu bisa berubah-ubah setiap waktu, kadang kokoh dan kadang ringkih. Dia dan kamu, saat ini....

pasti mengalami kebingungan, atau hanya dia saja ya?

Hm.

Tapi jika memang nyaman, dia tidak perlu susah-susah untuk menembus atau meruntuhkan bentengmu itu, tahu kenapa? Karena jika memang nyaman, benteng itu bisa berdampingan, kalian sama-sama punya benteng, tapi sama-sama tahu diri, sama-sama tahu bahwa benteng yang kalian punya itu sama-sama tidak boleh diruntuhkan. Paham kan?

Hm.


Ternyata kenyamanan itu ternyata tidak serumit menyukai seseorang ya?

Nyaman. Satu kata yang membuat aku tersenyum sepanjang hari tanpa harus meyakinkan diriku bahwa aku telah jatuh cinta. *azeeeek*

Selasa, 01 September 2015

Bukan Kamu

Terkadang di pagi hari, tiba-tiba dia muncul di depan rumahku membawakan sebuket bunga dan sepiring sarapan, dan hal itu sering di lakukan tiba-tiba tanpa permintaan, dia selalu menjadi orang teromantis di dunia, dari dulu hingga 3 tahun terakhir ini.

Dia juga memberikan segala hal yang aku inginkan tanpa aku meminta, tiba-tiba saja dia memberikan surprise kecil-kecilan tanpa aku minta, tapi aku mudah bahagia, jadi bagaimana aku tidak bahagia setiap hari karena dialah sumber kebahagian, bukan dari barang yang dia bawanya.

Dia memang cuek kepadaku ketika disibukkan sesuatu, kami sempat memutuskan hubungan, dan pada akhirnya dia memintaku kembali karena dia tidak hanya menyayangiku, tapi juga membutuhkanku.

Ketika aku sedih, dia datang tanpa aku minta, memberikan hiburan kepadaku tanpa membahas kesedihanku, dan dialah seseorang yang bisa membuatku nyaman meskipun dalam keheningan sekalipun.

Aku tidak pernah mencarinya karena dia selalu mencariku, dia selalu menanyakan bagaimana kabarku, bukan posesif, hanya saja dia terlalu mengkhawatirkanku.

Dia bukan hanya separuh jiwaku, tapi dia juga sahabatku, bekerja sama dalam berbagai hal, menyelesaikan masalah bersama, dan bersenang-senangku selalu bersama.

Dari semua cerita diatas tak ada satu pun adalah ceritaku, itu semua cerita orang lain yang aku jabarkan, lalu masihkah kamu bilang bahwa tulisanku itu melulu tentang aku dan kamu?.


Tak perlu ada ikatan apapun antara kita. Kita tak perlu saling menunggu. Kita hanya perlu belajar saling melepaskan dan menerima ketentuan-Nya — Mencintai Kehilangan

Large Yellow Polka Dot Pointer
by Atikah