Jumat, 25 September 2015

Seperti Menunggu Senja

Ternyata sang pangeran ikan tidak pernah menoleh ke arahku, maklum aku hanya putri daratan biasa. 

Mungkin dia mengharapkan putri-putri di lautan sana atau malah putri daratan di negri seberang. 

Lalu, apa yang harus kulakukan? Jika menyebut nama pangeran itu pun aku tak bisa. 

Aku tidak pernah tahu kabar pangeran ikan karena aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Dia juga tidak pernah menanyakan kabarku.

Aku hanya duduk diam di pinggir lautan menunggu dia muncul di permukaan, memandangi birunya lautan, dan gelombang yang terus menghampiriku. 

Aku baru ingat. Pangeran ikan bukanlah lumba-lumba yang suka muncul di permukaan, pangeran ikan juga bukan hiu yang rela merobek daging setelah mencium bau darah, pangeran ikan juga bukan ikan paus yang besar dan selalu mengeluarkan air dari punggungnya. 

Pangeran ikan cuma pangeran ikan yang memiliki kerajaan yang dia buat sendiri, demi keselamatan dirinya.

Tapi kenapa aku tetap menunggu di pinggir lautan? Sedangkan aku tahu dia tidak akan muncul.

Mungkin.

Seperti lautan yang menunggu senja, dia tidak pernah tahu pasti kapan senja datang, tapi dia tidak akan pernah bosan untuk menunggu dan menyambut senja yang sama di setiap menjelang petang.

baca juga: Pangeran Ikan yang Selalu Sungkan, Pilih Siripmu atau Putri Daratan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Big thanks for reading!

Large Yellow Polka Dot Pointer
by Atikah