Rabu, 14 Oktober 2015

Senyum Saja Sesekali

Putri daratan mendengarkan sesuatu yang mengejutkan tentang pangeran ikan, hal mengejutkan itu membuatnya tersenyum malam ini. Aku, iya, aku ini putri daratan sedang berdiam di tepi lautan dengan berjuta pikiran suntuk, pekerjaanku masih belum selesai juga, rasanya waktuku kurang, aku sempatkan pergi ke tepi lautan, mungkin saja pangeran ikan kembali muncul ke daratan, karena bagiku mengeluh sendirian, meskipun dalam hati itu memalukan, sang ratu daratan juga pernah bilang kepadaku "bagaimana kamu bisa mengeluh, sedangkan kau diberi nikmat sebegitu banyaknya oleh-Nya, mana rasa syukurmu? Masih pantaskah untuk mengeluh?"

Maka dari itu, aku lebih memilih untuk pergi sendirian ke tepi lautan, merasakan ombak yang tidak pernah bosan kembali ke daratan, melihat matahari yang menyapaku sambil memamerkan sinarnya yang menusuk awan-awan empuk di langit sana. Kupandangi hamparan biru didepanku, menantikan dia sang pangeran ikan yang mungkin saja mampir ke daratan.

Aha! Ternyata benar! Aku tidak rugi menunggu disini..

Entah kenapa, wajahnya yang adem membuat pikiranku kembali segar, rasanya semangatku kembali, rasanya aku masih punya waktu lagi untuk menyelesaikan segala kewajibanku. Dia, pangeran daratan seperti menyulap kesuntukan yang aku rasakan, seketika duniaku berwarna.

Hai Pangeran ikan terima kasih telah menyempatkan muncul sebentar ke daratan, kehadiranmu sedikit menghiburku disela-sela kesibukan tugas dari kerajaan daratanku, rasanya sekarang semua terasa ringan, aku juga tidak pernah lupa dengan senyuman khasmu itu, diam-diam aku memperhatikanmu, tak ada seorang pun yang tahu kan hingga detik ini? =))

Kamu saja tidak tahu, hahaha. oh iya, sesekali kamu juga boleh membantu tugas daratanku =)) *bah

Meskipun hanya sebentar senyuman dan suara lirihmu mampu membangkitkan semangatku yang sempat hilang ditelan kesuntukan. Apalagi setelah mendengar kata-kata dari putri daratan yang lain.

“Pangeran ikan juga.............”

Deg! Kenapa dia? Let me know....

Kamu itu seperti arloji yang selalu mengingatkanku akan waktu, sesekali aku harus melihatmu tetapi tidak mungkin setiap saat aku memandangmu. Kamu itu sedingin es, tapi terkadang mencair, terkadang benar-benar beku. Kamu juga seperti buku yang berada di bawah jurang, aku berusaha "menggapaimu", tapi tidak pernah bisa. Kamu seperti buku diaryku, tidak ingin raganya diketahui oleh orang lain, hanya sang pemilik yang boleh tahu. Kamu ya kamu deh pokoknya. =))

tetaplah dingin seperti es kepada semua orang, termasuk aku, tetaplah jadi dirimu. 

Oh iya, satu lagi. Terimakasih telah membangkitkan semangatku =))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Big thanks for reading!

Large Yellow Polka Dot Pointer
by Atikah